Kamis, 20 Maret 2014

BAHASA PROKEM DAN BAHASA BAKU INDONESIA YANG MEMPENGARUHI KEBERLANGSUNGAN BAHASA IBU



TUGAS STILISTIKA: MENULIS ESAI

BAHASA PROKEM  DAN BAHASA BAKU INDONESIA YANG MEMPENGARUHI KEBERLANGSUNGAN BAHASA IBU

Dosen Pengampu: Prof. Dr. Burhan Nurgiyantoro





Oleh Dzikrina Istighfaroh 11201241069



JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014


Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak bahasa ditiap daerahnya. Bahasa  ditiap daerah tersebut bisa disebut dengan bahasa ibu. Mungkin maksudnya yaitu bahasa yang diajarkan oleh ibu atau nenek moyang kita. Sejak lahir kita telah diajarkan bahasa ibu oleh keluarga kita masing-masing. Sehingga otomatis setiap anak dapat berbahasa sesuai dengan apa yang diajarkan oleh orangtua.
Menurut Panuti (1993), Bahasa terdiri atas lambang-lambang, yaitu tanda yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang lain. di dalam bahasa, tanda terdiri atas rangkaian bunyi yang pada ragam tulis dialihkan ke dalam tanda-tanda visual, yaitu huruf dan tanda. Bahasa tersebut menjadi bermacam-macam jenisnya karena bermacam pula tipe manusia dimasing-masing kelompok masyarakat.
Apabila dihitung, bahasa daerah/ bahasa ibu yang dimiliki oleh negara Indonesia jumlahnya lebih dari 700 bahasa daerah. Keragaman dalam bahasa ibu di Indonesia merupakan sebuah keunikan yang dimiliki oleh negara ini. Bahasa ibu ditiap daerah mencerminkan karakteristik setiap daerah yang patut dilestarikan. Keragaman itu mampu dijadikan infestasi keunikan bahasa yang dipunyai negara Indonesia.
Walaupun begitu Indonesia juga mempunyai bahasa pemersatu yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia diakui sebagai alat pemersatu bangsa pada saat sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Pada saat itu mereka bersumpah yaitu “… kami putra dan putri indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia.” Sejak itu bahasa Indonesia semakin diakui sebagai bahasa nasional Indonesia.
Penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Indonesia tidak begitu saja dipakai serentak oleh masyarakat Indonesia. Banyak masyarakat perbatasan yang masih belum menguasai bahasa Indonesia. Itu yang menyebabkan pemerintah Indonesia tepatnya bidang pendidikan di Indonesia mewajibkan pelajaran bahasa Indonesia disetiap jenjang sekolah. Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) misalnya, memasukkan pelajaran Bahasa Indonesia menjadi salah satu penentu kelulusan ujian nasional. Dari hal itu tergambar bahwa betapa pentingnya menguasai bahasa nasional negara.
Pentingnya bahasa nasional yang dibuktikan dengan hal tapi secara tidak langsung mempengaruhi keberlangsungan bahasa- bahasa ibu. Secara intensitas penggunaan bahasa, bahasa ibu akan berkurang dalam penggunaannya. Mulai dari saat bersekolah mereka dituntut untuk mampu menerapkan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Dengan begitu lama-kelamaan bahasa Indonesia akan mereka bawa sampai ke lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat daerah masing-masing.
Bahasa Indonesia akan terjamin keberlangsungan dalam pemakaiannya. Sementara dilain hal bahasa daerah/ bahasa ibu terancam berkurang pemakaiannya seperti yang saya ungkapkan tadi. Walaupun begitu intensitas keterancamannya masih dalam batas kewajaran dan tidak terlalu dikhawatirkan.
Menurut KBBI, bahasa ibu merupakan bahasa pertama yg dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, spt keluarga dan masyarakat lingkungannya. Jadi keluarga sangat mempengaruhi bahasa seorang anak yang lahir. Seorang anak akan mengikuti bahasa ibu yang diajarkan oleh keluarganya. Namun bahasa ibu saat ini mulai berkurang dalam pemakaiannya.
Terkait dengan bahasa Indonesia yang mempengaruhi bahasa Ibu. Berikut ini ada satu kasus yang berhubungan dengan hal tersebut termuat dalam Kompasiana.com;
Bahasa Ibu yang sering digunakan para guru di sekolah  sebagai  bahasa pengantar pendidikan mendapat teguran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seperti yang dilansir JPNN pagi ini, dimana Kemdikbud ini menilai kalau bahasa ibu merupakan variasi bahasa lokal yang sangat hetrogen, sehingga tidak layak untuk digunakan berkomunikasi apalagi dijadikan sebagai bahasa pengantar pendidikan.
Apa yang dikhawatirkan oleh Kemdikbud ini sangat beralasan, sebab saat ini para guru yang ada diberbagai daerah banyak yang menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar dalam mengajar. Baik dalam mengajar pelajaran yang ada di sekolah, maupun dalam mengajar Bahasa Indonesia, bahasa Ibu ini selalu dijadikan bahasa pengantar pendidikan.
Ini jelas sudah menyalahi aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, bagaimana para siswa dan siswi untuk mencintai Bahasa Indonesia jika para guru saja menerapkan bahasa tidak menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar(Febrian, 2012).
Berdasarkan masalah itu dapat terlihat bahwa bahasa ibu benar-benar tidak dihargai didalam proses pengajaran. Tidak ada sedikitpun celah bahasa ibu digunakan secara resmi dalam proses pengajaran. Bahasa ibu dianggap tidak layak untuk digunakan berkomunikasi . walaupun memang benar bahasa Indonesia harus dapat dikuasai oleh para peserta didik guna meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air. Tapi bukankah bahasa ibu juga harus dipertahankan dan dijaga keituhannya guna mencintai keberagaman berbahasa di negara kepulauan negara Indonesia ini.
Beralih dari masalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang harus dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Pengaruh terhadap keberlangsungan bahasa ibu juga berasal dari bahasa prokem. Bahasa prokem yang biasa disebut dengan bahasa gaul itulah yang perlu menjadi kekhawatirkan bersama.
Bahasa prokem merupakan istilah lama yang telah ada sejak lama. Seperti yang diungkapkan oleh Nurutami (2013) dalam makalahnya yang berjudul “Pengaruh Bahasa Gaul dalam Perkembangan Bahasa” sebagai berikut;
Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para anak jalanan yang disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman.
Sejak saat itu bahasa prokem mulai semakin tampak dan marak di dalam penggunaan bahasa anak-anak remaja. Bahasa prokem selalu berubah-ubah menurut pergantian jaman. Bahasa prokem tiap kelompok sosial juga berbeda-beda. Jadi satu kelompok satu dan kelompok lain belum tentu memahami bahasa prokem yang disepakati oleh setiap kelompok.
Salliyanti (2003) dalam repositorynya mengungkapkan bahwa Bahasa prokem ini tidak pernah mereka (para penutur dan penciptanya) perhitungkan untuk menjadi saingan ataupun menjadi pengganti bahasa Indonesia yang mereka pelajari disekolah. Penggunaan bahasa prokem tidak mengambil ranah pemakaian bahasa Indonesia yang mereka gunakan sehari-hari.
Dengan menggunakan bahasa prokem ini para remaja hanya ingin memisahkan diri dari kalangan orang di luar kelompok mereka dan berusaha menempatkan diri mereka dalam suatu kelompok khusus (Salliyanti, 2003). Berdasarkan hal itu dapat dilihat bahwa pemakaian bahasa prokem yang digunakan oleh suatu kelompok masyarakat mempengaruhi bahasa ibu/ bahasa daerah yang mereka gunakan sebelumnya.
Bahasa prokem yang mengambil ranah pemakaian bahasa daerah tersebut dapat dijadikan alasan bahwa bahasa prokem sedikit banyak telah mempengaruhi keberlangsungan pemakaian bahasa ibu/ bahasa daerah. Tentu saja pemakaian bahasa ibu akan lebih sedikit digunakan. Suatu kelompok masyarakat tertentu akan lebih tertarik dengan bahasa prokem yang telah mereka sepakati bersama.
Bahasa prokem juga mampu mempengaruhi pemakaian bahasa Indonesia resmi. Akan tetapi, bahasa Indonesia selalu dijadikan pelajaran ditiap jenjang pendidikan. Sehingga tidak perlu dikhawatirkan bahasa nasional tersebut akan dilupakan oleh masyarakatnya. Berbeda denghan bahasa ibu, tidak semua bahasa ibu diajar di sekolah-sekolah. Jadi banyak kemungkinan bahasa ibu akan semakin pudar.
            Bahasa prokem dan bahasa Indonesia resmi keduanya berpengaruh terhadap keberlangsungan bahasa ibu tiap daerah. Suatu bahasa ibu mampu bertahan diantara kedua macam bahasa itu tergantung oleh bagaimana suatu masyarakat memposisikan bahasa ibu tersebut. Bahasa ibu akan terjaga keberlangsungannya apabila bahasa ibu tersebut terus menerus digunakan dan diajarkan ditiap generasi suatu kelompok masyarakat.
            Ketiga bahasa mampu berjalan beriringan apabila suatu kelompok mampu memosisikan kapan dan dimana  harus berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, harus berbahasa ibu, dan menggunakan bahasa prokem. Maka bahasa satu tidak akan mempengaruhi keberlangsungan bahasa yang lain. semua nya akan aman dan bertahan walau berubah jaman. Sangat disayangkan apabila suatu bahasa diciptakan hanya untuk kemudian dipunahkan begitu saja. Jadi marilah kita berbahasa sesuai dengan situasi dan kondisi. Jangan sampai melupakan bahasa ibu yang telah diciptakan oleh orang terdahulu. Cintailah bahasa Indonesia dan bahasa ibu yang telah beriringan dengan proses kehidupan kita masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Febrian, Sinta. 2012. Bahasa Ibu Bukan Bahasa Indonesia. Diakses dari http://bahasa. kompasiana.com/2012/09/03/bahasa-ibu-bukan-bahasa-indonesia-483921.html pada 19 Maret 2014.

KBBI3. 2013. Deskribsi dari Bahasa Ibu. Diakses dari http://www.kamusbesar.com/ 47862/bahasa-ibu pada 19 Maret 2014

Nurutami, Anna Revi. 2013. Pengaruh Bahasa Gaul dalam Perkembangan Bahasa Indonesia. Diakses dari  http://annarevinurutami.blogspot.com/2013/04/pengaruh-bahasa-gaul-dalam-perkembangan_2.html pada 19 Maret 2014.

Panuti, Sujiman. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.

Salliyanti. 2003. Bahasa Prokem di Kalangan Remaja. Diakses dari  http://repository.usu.ac. id/ bitstream/123456789/1721/1/indonesia-salliyanti.pdf pada 19 Maret 2014.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar