Kamis, 22 Mei 2014

Tak Ada Gantinya



Tak Ada Gantinya
Seorang perempuan termenung menatap hujan dibalik jendela kamarnya. Hujan yang turun begitu deras seakan tak memiliki beban kehidupan. Mereka seperti sedang bermain-main diudara. Bermain perosotan seperti waktu kecilku dahulu. Tetapi,dibalik semua itu pasti banyak pahit getir yang telah dialami oleh sang hujan. Ia harus berubah menjadi awan, mendung, hingga akhirnya berubah menjadi hujan lagi. Seperti halnya diriku, yang selalu terlihat tegar diluar namun hati tak begitu.
            Benar yang dikatakan orang, hidup itu kadang diatas kadang pula dibawah. Kadang merasa senang kadang pula merasakan kesedihan. Dahulu bersama, kini berpisah. Yah..begitulah kehidupan. Ketika aku sedang asik mengamati hujan kedua sahabatku datang.
            “Kamu kenapa bengong didepan jendela, sedang mikirin apa Nir?”
            “Oh kamu Fal..sama siapa kamu kesini?”
            “Tu sama si Ais…”
            “Hei Anir!!! Sedang apa kamu? Sedang galau ya pasti,hahaha….”
            “Iya,pasti mikirin si Prama kan. Hayoo ngaku??”
            “Iiih..apaan sih kalian!
            “Pinjem handuk dong Nir,basah nih. Hujannya nggak pengertian banget sih. Ada cewek cantik kayak gini masih aja turun.”
            “Tuh ambil dibalik pintu.”
            Kutunjukkan tangan kananku ke arah handuk yang kumaksudkan. Ais dan Falya berebut meraihnya. Akupun hanya tersenyum melihat tingkah mereka.Merekalah sahabatku sekarang. Orang yang selalu mendengar keluh kesahku selama ini. Begitupun sebaliknya mereka juga selalu meluapkan isi hati mereka kepadaku. Aku selalu berpikir, apakah mereka bosan selalu hal itu itu saja yang menjadi luapan hatiku. Ya tentang laki-laki yang menjadi pujaan hatiku selama ini.
            Walaupun aku dan Prama sudah tak bersama, namun dalam kehidupanku, dalam sehari hariku masih penuh dengan segala tentangnya. Mimpi ditidurku hampir tiap hari ada kemunculannya. Hubunganku dengan Pramapun masih baik-baik saja. Kadang masih kubagi keluhku dengannya. Kuutarakan perasaanku kepadanya. Pramapun menerima keluhku dengan sabar. Semakin hari kurasa  Prama tambah dewasa pemikirannya. Aku semakin kagum dengannya. Aku ingin menjadi bagian dari hidupnya. Meskipun bukan menjadi pemilik hatinya, aku ingin keluh kesahnya bisa dibagi denganku.
            “Eh nir tadi aku melihat Prama di jalan Karang Biru. Dia memakai baju warna kuning kesukaanmu. Dia sedang beli makan kayaknya.”
Masih sibuk mengeringkan rambutnya yang basah akan air hujan, Falya mulai bercerita. Falya selalu bercerita setiap kali menemui orang yang kukasihi. Akupun mendengarkan ceritanya secermat mungkin. Beberapa kali Ais menambah keterangan yang diberikan Falya kepadaku.
“Iya Nir, tadi kamu nggak ikut kita sih ke fotocopyan,  jadi nggak bisa lihat deh.”
“Nggak papa, tadi aku juga udah ketemu dia kok dikampus. Dia senyum kepadaku. Manis banget. Nggak nyangka dulu aku pernah memilikinya.”
Ingatanku mengarah kebeberapa waktu lalu, ketika Prama memintaku untuk bersedia menjadi kekasihnya. Masih dengan senyum yang sama.
“Aku tak peduli orang mau bilang apa. Aku tau banyak yang tak suka akan rasa kita, tapi peduli apa, kita yang rasa. Mereka semua hanya melihat dari sudut mereka.”
“Aku percaya kamu. Aku memilih bersamamu. Tak peduli akan anggap aku apa, akan katakan aku apa oleh mereka.”

“Aku menyayangimu”
“Aku tidak!!!”
“Loh kok?”
“Aku tidak menyayangimu, tapi begitu menyayangimu,hihi….”
“hih…dasaaar.”
Dicubitnya pipiku yang katanya tembem. Entah kenapa setiap kali Prama mencubit pipiku aku merasa itu bukti sayangnya kepadaku. Aku menikmati itu semua.
“Tembemnya kamu yay..” Begitulah panggilan sayangnya kepadaku.
“Iya..kamu tirus..”
“Biarin, tapi kamu suka kan?”
“Mau kamu tembem, tirus, nggak punya pipipun aku tetap menyayangimu..”
“Oyah? Masak sih?”
“Oh, ragu nih critanya?”
“Mmm..iyaaa…”
“Hih kok nyebelin sih!”
“Tapi boong….hihihi”
“Hiiihhhh…”
Canda yang begitu renyah seperti itu yang membuatku nyaman didekatnya. Tapi Itu dulu. Kenangan semua itu masih teringat jelas dalam memori otakku.
“Dasar Anir! Dua sahabatnya dateng malah ditinggal ngelamun sendiri.”
Tiba-tiba si Falya membuyarkan lamunanku dan mulai dengan ceritanya yang baru.
“Eh..eh tau gag kalian, tadi aku berpapasan dengan Rade. Tapi dia cuek, kayak nggak kenal gitu. Sedih banget, padahal aku udah senyum semanis mungkin.Walaupun begitu aku tetep sayang banget ma dia Nir, Ais…”
“Cep..cep..cep..”
Aku dan Ais menepuk nepuk punggung Falya berusaha menenangkan hatinya. Padahal dibelakang Falya aku dan Ais menahan tawa. Kita berdua memang selalu jail kalo soal Falya. Mungkin karena Falya terlalu polos dan selalu ada sela dijadikan bahan tertawaan dari cara ia bercerita, dari cara pola pikirnya yang beda dengan yang lain. Meskipun begitu kita saling mengerti satu sama lain.
“Kamu kok bisa sih Nir, baik-baik sama Prama. Bisa akur terus kayak gitu. Ketemu juga nyapa. Nggak kayak Rade cuek banget. Iri deh liat kamu ma Prama.”
Senyumku melebar. Di dalam hati aku merasa bersyukur atas pernyataan yang disampaikan oleh Falya. Sejak aku berpisah dengan Prama aku berharap akan tetap berhubungan baik dengannya. Itu berarti harapanku tercapai.
Sementara Falya dan Ais sibuk membereskan lembar fotocopyan yang mereka bawa, aku kembali meneruskan lamunanku.
Aku tak pernah menyesal pernah menjadi bagian dari hidupnya. Aku juga tak pernah menyesal berpisah darinya, karena aku yakin akan jalan yang telah tergariskan. Aku yakin kalau jodoh pasti akan dipertemukan dan jodoh itu pasti sudah ada yang menentukan sejak manusia itu belum terlahir. Jadi tak perlu ada yanng dikhawatirkan saat ini.
Walaupun demikian, masih saja aku merasa sakit jika ada perempuan lain yang berasa didekat Prama. Pernah beberapa kali aku mengeluarkan air mata karena hal itu. Padahal tak ada apa-apa diantara mereka. Aku juga sering bilang langsung dengan Prama. Pramapun berusaha menenangkanku. Semakin dia berusaha menenangkanku semakin aku larut kedalam hatinya.
“Prama kuingin kau tau isi hatiku,kau tak akan pernah terganti. Tak akan pernah ku temui cinta yang sama diujung dunia manapun. Bila ada di belahan dunia mana bilang padaku, maka akan kucari itu.”

“Aku selalu berusaha mengikuti bayang hidupmu. Sejauh kuikuti segala tentangmu, semakin kutau akan dirimu, semakin kumengerti masa lalumu..Namun tak pernah ku mengerti masa depanmu. Siapapun yang menjadi masa depanmu, kuharap dia gadis yang mampu membuatmu selalu tersenyum.”
Seketika aku tersadar dari lamunanku dan menghapus air yang jatuh di kedua pipi tembem yang selalu dicubitnya dahulu. Seketika itu pula aku sadar kedua sahabatku tertidur disampingku. Mereka kelihatan begitu lelah. Kucoba menghapus peluh di wajah mereka. Aku sadar merekalah yang selama ini menguatkanku.
Tiba tiba handphoneku bergetar.  Ku raih handphone yang tergeletak diatas kasur. Saat ku mulai membuka pesan yang masuk dan kubaca.. Jantungku berdebar seketika.
“Anir, aku menyayangimu..”
Prama_
31/03/2013 12:47



Magelang, 31 Maret 2013 12:47
Dzikrina Istighfaroh
11201241069

      <~ Bersama tokoh asli  dalam cerita sebagai Ais dan Falya
Sedangkan yang atas tidak perlu ditanya lagi..yaa Prama :)               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar