Senin, 13 Januari 2014

UNSUR FEMINISME DALAM NOVELET DORODASIH KARYA IMAN BUDHI SANTOSA



TUGAS KRITIK SASTRA SEMESTER 5-KU........


UNSUR FEMINISME DALAM NOVELET DORODASIH
KARYA IMAN BUDHI SANTOSA
Oleh: Dzikrina Istighfaroh
NIM 11201241069

Bukukita.com


A.    PENGANTAR
Karya sastra merupakan hasil cipta manusia yang perlu kita apresiasi bersama dengan berbagai cara. Salah satu wujud apresiasi karya sastra yaitu dengan cara menganalisis karya tersebut dengan berbagai macam pendekatan yang ada.  Hal pertama yang akan diulas yaitu pengertian karya sastra. Para ahli memiliki cara pandang mereka masing-masing dalam mengartikan sebuah makna dari karya sastra. Pengertian karya sastra dalam buku berjudul Pengantar Ilmu Sastra yaitu teks-teks yang tidak melulu disusun atau dipakai untuk suatu tujuan komunikatif yang praktis dan yang hanya berlangsung untuk sementara waktu saja (Luxemburg, Mieke,Willem G. W., 1989:9).
Jakob dan Saini (1997: 3) berpendapat bahwa sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa . Pengertian lain juga terdapat dalam buku Pengantar Kajian Sastra, yaitu segala sesuatu yang tertulis, pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis (Wiyatmi, 2008: 17).
Pendekatan dalam karya sastra itu sangat penting karena apabila dalam menganalisis suatu karya sastra kita tidak terfokuskan ke dalam salah satu pendekatan maka hasilnya akan kurang maksimal. Dalam menganalisis novelet berjudul Dorodasih karya Iman Budhi Santosa ini saya analisis menggunakan pendekatan feminisme. Kental sekali unsur feminisme di dalam cerita Dorodasih ini. Sebelum membahas mengenai cerpen yang akan dianalisis ada baiknya kita ketahui dulu pengertian dari pendekatan feminisme. Pendekatan feminisme yaitu salah satu kajian karya sastra yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandang eksistensi perempuan, baik  sebagai penulis maupun dalam karya sastra- kartya sastranya (Wiyatmi, 2008: 113).
Iman Budhi Santosa dalam mencipta karya sastra berjudul Dorodasih ini begitu memperhatikan tingkah seorang perempuan pada masanya. Dibuktikan dengan menampilkan beberapa karakter tokoh perempuan dalam cerpen tersebut. Novelet ini juga pernah dibahasdan diteliti sebelumnya mengenai citra tokoh perempuan oleh Nita Tri Prastiyoningtias.
 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkah laku tokoh perempuan pada kumpulan novelet Dorodasih karya Imam Budhi Santosa. Serta mendeskripsikan stimulus yang mempengaruhi terbentuknya tingkah laku tokoh perempuan pada kumpulan novelet Dorodasih karya Imam Budhi Santosa (Prastiyoningtias, 2008) Hal ini yang menjadikan alasan saya dalam menganalisis novelet berjudul Dorodasih ini menggunakan pendekatan feminisme.

B.     PEMBAHASAN
Novelet berjudul Dorordasih karya Iman Budhi Santosa ini sarat akan unsur keperempuannannya. Dilihat dari judulnya saja sudah terlihat bahwa karya sastra tersebut menceritakan tentang tokoh perempuan bernama Dorodasih. Entah itu membahas mengenai kehidupannya yang seperti apa, namun pasti banyak hal yang dapat di analisis menggunakan pendekatan feminisme. Berikut ini adalah data yang dapat mengacu kepada bukti-bukti fokus berdasar pendekatan feminisme:
No
Tokoh
Kategori
Kutipan
1.
Dorodasih dan para pemetik
Deskripsi pengarang
Saksi utama ketegaran mereka menapaki kerasnya kehidupan dibumi leluhur sendiri.
Semenjak dahulu kala, mati hidupnya perkebunan the memang bukan ditangan laki-laki, melainkan pada jemari dan punggung perempuan perkasa ini (Santosa, 2002: 3).
2.
Dorodasih
Deskripsi pengarang
Yang menyolok dan membuatnya berbeda dari gadis-gadis sebayanya, mungkin dandanannya. Dimanapun berada, Dasih selalu kelihatan rapi (Santosa, 2002: 5)
3.
Dorodasih
Deskripsi pengarang
Dasih benar-benar mewarisi sebagian sifat dirinya. Keras hati, mudah tersinggung, namun pemaaf.
Mengenai kesukaannya terhadap segala sesuatu yang bersih dan rapi itu, Temo menduga, turunan dari emaknya (Santosa, 2002: 6-7)
4.
Dorodasih
Deskripsi pengarang
Dari hari ke hari, nama Dasih, pribadi, dan keberadaannya semakin lebur. Menyatu dengan Parmi, Wage, Muisah, Sulipah, Kemi, Jani, Wagiyem, serta puluhan pemetik lainnya. Baik yang tamat SD, yang hanya sampai kelas dua, atau yang dapatnya tulis baca lantaran kejar paket A (Santosa, 2002: 7
5.
Dorodasih
Deskripsi pengarang
Dasih yang sekarang adalah dasih yang rela menangis atau tertawa dalam duka gembira yang menyertai kehidupan sunyi perempuan perbukitan Kembangsari (Santosa, 2002: 8)
6.
Ruwanti
Dialog antar tokoh
“Dan ini, kalau saya juri, Ruwanti nggak bakalan menang masak petik bertahun-tahun kena terik matahari mudah pingsan?” (santosa, 2002:9)
7
Dorodasih
Deskripsi pengarang
Dasih tidak menjawab. Mengangguk pun tidak. Karena wajahny terasa ditampar. Panas seperti tersiram bara. Dengan mulut terkatup rapat, ia bangkit. Kemudian bergegas meninggalkan implasemen tanpa berpaling lagi (Santosa, 2002: 10)
8.
Dorordasih
Deskripsi pengarang
Kali ini perasaannya benar-benar terguncang. Harga dirinya seperti tertantang. Selamanya belum pernah orang mengharubiru caranya berpakaian. Apalagi sampai mengatur , harus begini begitu. Baginya pakaian bukanlah penutup tubuh belaka. Buka pula hiasan. Melainkan cermin kepribadian (Santosa, 2002:10-11)
9.
Dorodasih
Dialog tokoh
Nada bicaranya berat dan dalam. Wajahnya serius. Menandakan apa yang disampaikan bukanlah omong kosong belaka… Bukan isapan jempol yang cukup  didengarkan dengan satu telinga . “Anak itu keras hatinya . tapi orangnya baik. Luhur budinya. Aku yakin. Misalnya ia salah, ia tentu punya alasan kuat terhadap perbuatannya..wujud kesehariannya memang tukang petik . tapi dihatinya tersimpan ribuan mutiara.” (Santosa, 2002: 13)
10
Dorodasih
Deskripsi pengarang
Dasih diam saja. Wajahnya tak berubah. Dingin tanpa ekspresi. Kendati batinnya berkutat habis-habisan menahan perasaannya yang mulai bergejolak. (Santosa, 2002: 15)
11.
Dorodasih
Dialog tokoh
Mendengar jawaban Temo yang terus terang menyebut pemetik itu kuli , Dasih tertawa. “ Itulah yang menjadi cita-cita saya, Pak. Bagaimana membuat pemetik-pemetim itu bukan lagi kuli. Paling tidak supaya mereka lebh diperhatikan. Dihargai sebagai manusia. Caranya, kalau kebun belum membuka diri, kitalah pemetik-pemetik ini yang harus menghargai pekerjaan kita terlebih dahulu. Mana mungkin orang lain menghargai kita sebelum yang bersangkutan menghargainya?” (Santosa, 2002: 26)





Data diatas merupakan bukti bahwa banyak sekali unsur feminisme yang menonjol dalam novelet tersebut. Karya sastra tersebut menceritakan tentang kehidupan Dorodasih sebagai pemetik teh.
Saksi utama ketegaran mereka menapaki kerasnya kehidupan dibumi leluhur sendiri.
Semenjak dahulu kala, mati hidupnya perkebunan teh memang bukan ditangan laki-laki, melainkan pada jemari dan punggung perempuan perkasa ini (Santosa, 2002: 3).
Sebagai seorang perempuan sudah bukan jamannya hanya berada didalam rumah. Eksistensi perempuan telah diakui di kaum laki-laki. Mereka bisa bekerja sesuai dengan kemampuan dan kemauan masing-masing.
Yang menyolok dan membuatnya berbeda dari gadis-gadis sebayanya, mungkin dandanannya. Dimanapun berada, Dasih selalu kelihatan rapi (Santosa, 2002: 5)

Dorodasih walaupun dia seorang pemetik the yang tangguh namun dia tetap memperlihatkan sisi kewanitaannya yaitu selalu berpakaian rapi saat bekerja. Walaupun teman-teman kerjanya sering mengolok-olok gaya pakaiannya dia tetap konsisten untuk selalu berpakaian kebaya rapi.
Dalam novelet tersebut dijelaskan karakter dari tokoh Dorodasih melalui deskripsi pengarang dan juga dialog antar tokoh. Karakter dorodasih yaitu dia bersifat keras hati seperti ayahnya. Ia juga mudah tersinggung namun pemaaf. Sifat yang diturunkan dari ibunya yaitu Dorodasih suka dengan segala hal yang bersih dan rapi. Berikut ini kutipan dalam novelet yang menjelaskan hal tersebut.
Dasih benar-benar mewarisi sebagian sifat dirinya. Keras hati, mudah tersinggung, namun pemaaf.Mengenai kesukaannya terhadap segala sesuatu yang bersih dan rapi itu, Temo menduga, turunan dari emaknya (Santosa, 2002: 6-7)

Selain itu Dorodasih juga pribadi yang cerdas dari pada teman-temannya. Ia juga mudah bergaul dan memiliki banyak teman.
Dari hari ke hari, nama Dasih, pribadi, dan keberadaannya semakin lebur. Menyatu dengan Parmi, Wage, Muisah, Sulipah, Kemi, Jani, Wagiyem, serta puluhan pemetik lainnya. Baik yang tamat SD, yang hanya sampai kelas dua, atau yang dapatnya tulis baca lantaran kejar paket A (Santosa, 2002: 7)

Sifat Dorodasih sebagai seorang perempuan yang khas lain yaitu ia tidak suka diatur-atur mengenai cara berpakaian. Menurutnya pakaian itu adalah cermin dari kepribadian seseorang. Jadi waktu ada orang yang mengatur pakaian yang dikenakannya ia langsung marah.
Kali ini perasaannya benar-benar terguncang. Harga dirinya seperti tertantang. Selamanya belum pernah orang mengharubiru caranya berpakaian. Apalagi sampai mengatur , harus begini begitu. Baginya pakaian bukanlah penutup tubuh belaka. Buka pula hiasan. Melainkan cermin kepribadian (Santosa, 2002:10-11)

Walaupun Dorodasih memiliki sifat mudah tersinggung, namun ia memiliki hati yang bersih dan tekad yang kuat. Terbukti dalam kutipan antar tokoh berikut ini;

Nada bicaranya berat dan dalam. Wajahnya serius. Menandakan apa yang disampaikan bukanlah omong kosong belaka… Bukan isapan jempol yang cukup  didengarkan dengan satu telinga . “Anak itu keras hatinya . tapi orangnya baik. Luhur budinya. Aku yakin. Misalnya ia salah, ia tentu punya alasan kuat terhadap perbuatannya..wujud kesehariannya memang tukang petik . tapi dihatinya tersimpan ribuan mutiara.” (Santosa, 2002: 13)

Dorodasih memiliki tekad yang kuat. Ia bercita-cita ingin memajukan kehidupan para pemetik teh agar tidak dianggap remeh. Tidak disamakan dengan kuli yang hanya bisa disuruh-suruh. Cita- cita mulianya terdapat dalam dialog Dorodasih dan bapaknya sebagai berikut;
Mendengar jawaban Temo yang terus terang menyebut pemetik itu kuli , Dasih tertawa. “ Itulah yang menjadi cita-cita saya, Pak. Bagaimana membuat pemetik-pemetim itu bukan lagi kuli. Paling tidak supaya mereka lebh diperhatikan. Dihargai sebagai manusia. Caranya, kalau kebun belum membuka diri, kitalah pemetik-pemetik ini yang harus menghargai pekerjaan kita terlebih dahulu. Mana mungkin orang lain menghargai kita sebelum yang bersangkutan menghargainya?” (Santosa, 2002: 26)

C.    KESIMPULAN

Unsur feminisme dalam novelet berjudul Dorodasih karya Iman Budhi Santosa ini begitu kental. Terlihat dari judulnya yang menggunakan nama pemeran tokoh utama dalam novelet tersebut. Dorodasih adalah seorang pemetik daun the yang memiliki cita-cita mulia ingin mengangkat martabat perempuan para pemetik the agar tidak disamakan seperti kuli. Ia berharap pemetik teh dapat dihargai pekerjaannya. Perempuan juga dapat dihargai kerja kerasnya sama seperti pekerja laki-laki.

D.    DAFTAR PUSTAKA

Luxemburg, J.V., Mieke B., dan Willem G.W..1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
Prastiyoningtias, Nita Tri. 2008. Citra Tokoh Perempuan pada Kumpulsn Novelet “Dorodasih” Karya Iman Budhi Santosa. Diakses dari http://eprints.umm.ac.id/10125/ pada hari minggu 12 Januari 2014.
Santosa, Iman Budhi. 2002. Dorodasih. Yogyakarta: LkiS.
Sumardjo, Jakob & Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
Wiyatmi. 2008. Pengantar Kajian sastra. Yogyakarta: Pustaka.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar