Judul:
Mahmud dan Hamid
Cerita ini berasal dari
dua orang mahasiswa yang berteman akrab. Mereka kuliah di jurusan yang sama dan
bahkan satu kelas. Mereka juga tinggal dalam satu kost yang sama. Walaupun
mereka berteman akrab, namun mereka memiliki sifat yang berkebalikan. Mahmud
adalah seorang yang malas dan licik, sedangkan Hamid adalah seorang yang rajin,
jujur, dan polos.
Mahmud selalu
memanfaatkan kepolosan Hamid. Ia selalu meminta Hamid untuk mengerjakan tugas
kuliahnya. Dengan berbagai alasan, Mahmud selalu berhasil membujuk Hamid untuk
mau mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.
“Mid, tolong kerjakan
tugas kuliahku sekalian ya. Aku mau kencan soalnya, ya? Kalau tidak kencan aku
bisa diputus soalnya. Kamu mau tanggung jawab kalau aku diputus oleh pacarku?”
Mahmud mengancam dengan muka serius.
“Ya.. Ya.. “ Dengan muka takut dan khawatir,
Hamid meng-iya-kan permintaan Mahmud.
Setiap ada tugas kuliah
Mahmud selalu mengandalkan Hamid untuk mengerjakannya. Hamid dengan polosnya
selalu menyanggupi permintaan Mahmud. Ia selalu percaya dengan alasan yang
diberikan Mahmud.
“Mid, ini tugas
kuliahku ada yang belum kelar, tolong
selesaiin ya.. Aku disuruh jemput
ibu, habis itu mau temenin dia
belanja. Kamu mau gara-gara kamu nggak nolong
aku, aku dikutuk jadi batu kayak
Malin Kundang?” Ancaman Mahmud kepada Hamid. Seperti biasa, Hamid tidak tega
untuk menolak permintaan Mahmud.
Suatu ketika Mahmud dan
Hamid dipanggil oleh salah satu dosen mata kuliah.
“Mahmud, kenapa kamu
tidak pernah mengerjakan tugas-tugas kuliah dari ibu?” Dosen itu menanya dengan
agak marah.
“Mengerjakan kok Bu,
jawab Mahmud sambil melirik ke arah Hamid. Dalam hati, Mahmud kesal kepada
Hamid.
Kemudian dosen itu
bertanya kepada Hamid. “Hamid, kenapa tugas kuliah yang kamu kumpulkan selalu double?” Tanya dosen dengan lemah
lembut.
“Itu yang satu saya
dedikasikan untuk Mahmud Bu, kasian dia.” Jawab Hamid dengan polosnya.
Setelah mereka keluar
dari ruang dosen, Mahmud tidak mampu menahan kemarahannya.
“Mid, kenapa tugas
kuliahnya yang satu tidak diberi namaku?” Tanya Mahmud kesal.
“Aku tidak mau
berbohong Mud. Kamu mau, aku masuk neraka gara-gara kamu?” Jawab Hamid dengan
kepolosannya.
Mahmud speechless…………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar